Setiap tahun, pengecer menghadapi dilema yang sama: bagaimana cara menciptakan diskon yang menarik dan kampanye yang menarik agar menonjol di tengah banjir promosi musiman?
Namun, melihat lonjakan permintaan musiman ini, apakah itu cukup untuk menjual lebih banyak?
Meskipun semua ini memiliki nilai dalam meningkatkan pendapatan peritel, kinerja berkelanjutan sepanjang tahun hanya akan mungkin tercapai jika wirausahawan mengalami perubahan pola pikir yang penting: memanfaatkan otomatisasi dan data untuk menjual lebih efisien dan dengan upaya operasional yang berkelanjutan. Inilah yang saya lihat sebagai bagian dari masa depan e-commerce cerdas.
Menengok ke belakang, Black Friday, misalnya, bukan sekadar acara penjualan terbesar tahun ini; melainkan barometer pasar, yang mengungkap pola konsumsi, perilaku pelanggan, dan efisiensi operasional. Pertanyaan besar yang harus ditanyakan setiap peritel kepada diri mereka sendiri sekarang adalah: apa yang bisa saya pelajari dari pengalaman ini untuk berkembang tahun depan?
Melampaui puncak gunung es
Peritel modern perlu menerima bahwa harga yang kompetitif hanyalah sebagian dari persamaan. Pertimbangkan skenario berikut: Anda berinvestasi besar-besaran dalam diskon, menarik banyak pengunjung, tetapi mengakhiri kampanye dengan ratusan keranjang belanja yang terbengkalai. Apa artinya ini? Ada sesuatu yang lebih mendalam—dan seringkali terabaikan—yang perlu ditangani.
Di sinilah penggunaan data dan otomatisasi yang strategis berperan. Misalnya, mengelompokkan penawaran ke profil tertentu, mengirimkan pesan yang dipersonalisasi kepada pelanggan yang belum menyelesaikan pembeliannya, atau menawarkan penawaran khusus kepada mereka yang hanya mengunjungi satu halaman adalah inisiatif yang mengubah interaksi yang hilang menjadi konversi nyata.
Lebih lanjut, menganalisis produk mana yang memiliki tingkat pengabaian tertinggi memungkinkan Anda menyesuaikan strategi dengan lebih tepat. Mungkin diskonnya kurang menarik, atau target audiens untuk produk tersebut belum teridentifikasi dengan tepat. Belajar dari peluang yang terlewat ini merupakan langkah penting untuk pertumbuhan. Dan ini terbukti dalam praktiknya: menurut Loja Integrada, peritel memulihkan lebih dari R$30 juta penjualan dengan menggunakan alat keranjang yang terbengkalai pada tahun 2024 saja.
Pelajaran penting lainnya yang diajarkan Black Friday adalah perlunya operasional yang tangguh. Mereka yang mempersiapkan diri dengan baik menghadapi jam sibuk dan permintaan inventaris yang tinggi kemungkinan besar akan meraih hasil yang lebih baik.
Mengetahui, misalnya, produk mana yang paling laris atau waktu puncak trafik sangat penting untuk merencanakan kampanye mendatang. Lebih dari itu, memiliki operasi yang gesit untuk menyesuaikan promosi secara real-time dapat menjadi penentu antara mencapai atau gagalnya tujuan.
Kekuatan data
Analisis data adalah warisan paling berharga yang dapat ditinggalkan oleh setiap musim untuk bisnis Anda. Berikut cara memanfaatkannya untuk keuntungan Anda:
- Prioritaskan produk terlaris: Produk mana yang paling banyak diminati? Pantau kategori-kategori ini untuk menyorotinya di kampanye mendatang;
- Pahami perilaku konsumen: Siapa membeli apa, dan kapan? Gunakan informasi ini untuk mengelompokkan pelanggan dan meningkatkan penawaran Anda;
- Persiapkan diri Anda dengan lebih baik: Produk yang kehabisan stok atau tertahan di gudang dapat menjadi indikator penting untuk perencanaan tahun 2025;
- Sesuaikan kampanye pemasaran: Data historis dapat memandu penyesuaian pada iklan, pemasaran email, dan pemasaran ulang, sehingga membuat kampanye masa depan Anda lebih strategis.
Lalu apa yang tersisa?
Platform e-commerce harus lebih dari sekadar menawarkan alat untuk memenuhi permintaan—mereka harus meringankan beban wirausahawan, terutama selama puncak pasar. Mereka harus bertindak proaktif bagi para peritel, mengidentifikasi peluang, mengambil tindakan, dan menghasilkan pertumbuhan terukur secara mandiri.
Ini bukan tentang perubahan bertahap – ini tentang memikirkan kembali e-commerce secara menyeluruh.