Dalam beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan (AI) telah terbukti sebagai sekutu yang kuat bagi perusahaan yang berusaha mengoptimalkan strategi penjualan mereka dan menonjol di pasar yang semakin kompetitif. Dengan kemampuan menganalisis sejumlah besar data dalam waktu nyata, mengotomatiskan proses, dan mempersonalisasi layanan pelanggan, AI mengubah cara perusahaan berinteraksi dengan konsumen mereka, dan akibatnya berdampak langsung pada hasil bisnis mereka.
Sesuai dengan laporan edisi keenam Kondisi PenjualanDari Salesforce, yang pada tahun 2024 mewawancar lebih dari 5.500 profesional penjualan di 27 negara, termasuk 300 orang Brasil, menyimpulkan bahwa delapan dari sepuluh penjual Brasil (81%) menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) dalam pekerjaan mereka, tetapi hanya 28% dari waktu itu yang dihabiskan untuk berhubungan dengan pelanggan dan melakukan penjualan.
Memikirkan hal itu, Raphael Lassance, mitra dan mentor dari Sales Clube, ekosistem khusus solusi penjualan untuk perusahaan, membuat daftar 4 Alasan Penggunaan Kecerdasan Buatan dalam Strategi Penjualan Setiap Pengusaha. Lihat:
1. Otomatisasi dan efisiensi dalam proses penjualan
Salah satu keuntungan utama AI dalam strategi penjualan adalah otomatisasi tugas berulang dan administratif. Alat berbasis AI dapat menangani penyortiran prospek, menjawab pertanyaan umum melalui chatbot, dan bahkan melakukan kualifikasi prospek, membebaskan tenaga penjualan untuk fokus pada interaksi yang lebih kompleks dan penutupan transaksi.
Selain itu, AI mampu menganalisis perilaku konsumen secara terperinci, mengidentifikasi pola, dan menyarankan pendekatan terbaik untuk konversi. Dengan algoritma prediktif, teknologi ini dapat memprediksi pelanggan mana yang paling mungkin melakukan pembelian, sehingga mengoptimalkan upaya tim penjualan dan meningkatkan tingkat konversi.
2. Personalisasi pengalaman belanja
Area lain di mana AI menonjol adalah dalam personalisasi pengalaman pelanggan. Melalui sistem rekomendasi, seperti yang digunakan oleh platform e-commerce besar, perusahaan dapat menawarkan produk dan layanan yang dipersonalisasi berdasarkan riwayat penjelajahan dan pembelian pelanggan sebelumnya.
Personalisasi ini tidak terbatas pada produk saja, tetapi juga pada layanan pelanggan. AI dapat diintegrasikan ke dalam sistem CRM untuk memberikan interaksi yang lebih tepat sasaran, dengan rekomendasi, promosi, atau konten khusus untuk setiap pelanggan, semuanya berdasarkan perilaku dan preferensi individu.
3. Analisis data untuk pengambilan keputusan strategis
Kemampuan menganalisis volume data yang besar, atau Big Data, adalah salah satu kekuatan terbesar AI. Dengan memproses data dari berbagai sumber (situs web, media sosial, CRM, dll.), alat ini menawarkan wawasan berharga tentang perilaku konsumen, tren pasar, efektivitas kampanye penjualan, dan bahkan kinerja penjual individu.
Informasi tersebut dapat digunakan untuk menyesuaikan strategi secara real-time, sehingga memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat. Misalnya, jika kampanye penjualan tidak menghasilkan hasil yang diharapkan, kecerdasan buatan (AI) dapat dengan cepat mengidentifikasi apa yang perlu diubah, seperti target pasar atau jenis penawaran yang disajikan.
4. Pelatihan tim dan peningkatan produktivitas
AI juga telah digunakan dalam pelatihan tim penjualan, melalui alat yang mensimulasikan interaksi dengan pelanggan dan menganalisis kinerja penjual. Dengan memantau dan memberikan umpan balik instan, solusi-solusi ini membantu meningkatkan keterampilan profesional penjualan, menjadikan mereka lebih efektif dan produktif.
Selain itu, otomatisasi proses memungkinkan tim untuk fokus pada hubungan dengan pelanggan, daripada membuang waktu pada tugas-tugas administratif atau rutin.
Kecerdasan buatan (AI) jelas merupakan sekutu strategis bagi perusahaan yang ingin meningkatkan daya saing dan memperbaiki proses penjualannya. Dengan mengotomatiskan tugas, meningkatkan personalisasi, dan mengoptimalkan keputusan berdasarkan data, perusahaan dapat mencapai tingkat efisiensi dan kesuksesan yang baru, kata Lassance.
Namun, ia menekankan pentingnya keseimbangan antara otomatisasi dan sentuhan manusia. "Meskipun AI dapat mengoptimalkan banyak proses, empati dan koneksi emosional dengan pelanggan masih merupakan aspek fundamental yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi," pungkasnya.

