ITU Gerakan“Anti-Algoritma” ini adalah tren perilaku konsumen yang ditandai dengan penolakan sadar terhadap rekomendasi yang diotomatisasi oleh Kecerdasan Buatan. Penganutnya berusaha mendapatkan kembali kendali atas pilihan mereka, dengan menghargai kurator manusia, penemuan yang tidak disengaja (serendipity) dan pengalaman berbelanja yang tidak dimanipulasi oleh data perilaku.
Langkah ini datang sebagai respons paradoks terhadap kejenuhan teknologi yang diprediksi untuk tahun 2026: semakin AI mencoba memprediksi apa yang diinginkan pengguna (“tak terlihat”), semakin konsumen kehilangan ketidaksempurnaan dan keaslian sentuhan manusia (“sentuhan manusia”).
Motor Gerakan: The “Bubble Fatigue”
Dasar dari gerakan ini terletak pada kelelahan yang disebabkan oleh Tapis Bubbles (Filter Bubbles). Algoritma rekomendasi (seperti yang dari TikTok, Netflix, atau Amazon) dirancang untuk menunjukkan lebih banyak “ yang sama” untuk memaksimalkan keterlibatan.
Konsumen “Anti-Algoritma” menyadari bahwa itu menghasilkan:
- Homogenisasi Rasa: Semua orang akhirnya mengkonsumsi produk virus yang sama.
- Kerugian Penemuan: Algoritma jarang menyarankan apa pun di luar zona nyaman pengguna.
- Sensasi Surveillance: Ketidaknyamanan dengan akurasi prediksi (“Bagaimana situs tahu aku menginginkan ini?”).
Fitur Konsumsi Anti-Algoritma
Untuk profil konsumen ini, nilainya bukan pada efisiensi AI, namun pada efisiensi AI kepercayaan pada kurasi manusia.
- Otoritas yang Dikurasi (Pembuat Selera): Preferensi oleh buletin ditulis oleh ahli nyata, “SelectionsChoice dari Editor”, atau rekomendasi dari mikro-influencer yang memiliki selera tertentu, daripada daftar yang dihasilkan oleh “yang membeli ini juga.
- Cari berdasarkan Serendipity: Keinginan untuk menemukan produk secara kebetulan, tanpa logika sebelumnya. Ini merevitalisasi ritel fisik (kenikmatan penambangan) dan mendukung antarmuka digital yang memungkinkan navigasi acak (“Shuffle”).
- Privasi sebagai Gaya Hidup: Penggunaan alat yang memblokir pelacak tidak hanya untuk keamanan, tetapi untuk mencegah“ ”mesin membentuk identitas konsumen Anda.
Perbandingan: Konsumsi Algoritma vs. Anti-Algoritma
| Karakteristik | Konsumsi Algoritma (Standar Saat Ini) | Konsumsi Anti-Algoritma (Tren 2026) |
| Sumber Saran | AI / Machine Learning (Big Data) | Manusia / Pakar / Komunitas |
| Logika | “Kau menyukai A, kau akan menyukai B” | “Ini menarik, coba” |
| Objective | Konversi Presisi dan Segera | Penemuan, Kejutan dan Keaslian |
| Sensation | Kenyamanan, tapi berulang | Tak terduga dan “Organik” |
| Contoh Praktis | Feed “Untukmu” (TikTok) | Umpan Kronologis atau Kuratorial Editorial |
Dampak untuk Merek: “Curated Commerce”
Gerakan Anti Algoritma bukan berarti akhir dari teknologi, tetapi perubahan dalam penerapannya. Perdagangan Terkurasi (Perdagangan yang Disembuhkan).
Alih-alih menyembunyikan kurasi manusia, perusahaan justru menyoroti hal itu.
- Contoh: Toko buku online yang menyoroti “O yang dibaca penjual buku kami” alih-alih hanya “Lebih banyak dijual dari kategori”.
- Contoh Mode: Toko yang memungkinkan Anda memfilter dengan “LIFE style” atau “Vibe” (konsep subjektif manusia) bukan hanya ukuran atau warna (data objektif).
Paradoks Tahun 2026
Konsumen tahun 2026 tidak menolak AI untuk tugas-tugas utilitarian (seperti mengisi kembali tisu toilet & OW secara otomatis Agentic Commerce), tetapi menolaknya untuk pilihan dari identitas dan selera (musik, fashion, seni, dekorasi).
Untuk Anti-Algoritma, efisiensi adalah untuk mesin; rasa adalah untuk manusia.

